Kamis, 22 April 2021

Yang Terbaik Sejak Awal

CM dengan semua pemikirannya dan pengalamannya yang sebagai pendidik yang fokus ke perkembangan anak  secara utuh, yakin bahwa makanan terbaik bg akal budi adalah ide2 yang hidup. Dan itu dari buku : living book.
Akal budi sifatnya spiritual, jadi perlu asupan yg sifatnya spiritual jg dr buku.
Bukan sembarang buku tapi hanya buku-buku yang terbaik.

Seperti apa buku terbaik itu ? Bukankah banyak sekali buku anak-anak saat ini yang menarik di mata penuh warna dan segala hiburan mata lainnya.
Buku yang terbaik itu sebaiknya ditulis oleh yg punya passion/kecintaan besar pada topik itu, sehingga ketika membacanya ada atmosfir yang dirasakan oleh pembaca.
Living book (LB) bisa menyampaikan informasi tanpa menggurui.

Living book ini spektrumnya luas.. dengan seringnya membaca, kita bisa merasakan mana yang termasuk agak living book atau living book banget.. 😜

Ada 2 ciri khas untuk mengenali living book ini:
* Ditulis dengan naratif dan sastrawi
* Ada ide-ide hidup di dalamnya (ini bagian yang terpenting)

Bacaan yg seperti inilah yang bisa membuat kita berefleksi.

Jika sudah biasa dgn buku sastra akan mudah mengenali.
Yang khas dari buku sastrawi biasanya terasa dalam satu kalimat yang dibuat benar-benar dipikirkan, bunyinya berima, menarik, dan naratif (bercerita).

Buatku ini hal yang terasa "owh iya" untuk membedakan living book dengan cerita lainnya.
Cukup banyak buku cerita anak-anak, yang tampaknya mengandung nilai-nilai yang baik.. tapi memang poin sastrawinya hampir tidak ada.

Hal lain yg penting ketika membaca living book adalah membaca lambat, fungsinya untuk memahami ide yg terkandung di dalamnya.
Membaca bukan sekedar mendapat informasi, tp untuk memahami dan merelasikan.

Kita perlu menyediakan asupan bacaan berkualitas baik untuk anak-anak kita.. yang terbaik.
Kembali lagi jika dianalogikan dengan makanan, kalau kita lapar dan gak punya makanan sehat maka kita akan makan apapun yg bisa dimakan. 
Anak2 punya kebutuhan membaca, jadi pastikan tersedia buku baik atau anak akan sembarang membaca buku apapun itu.

Kl kita punya pondasi berpikir yg baik dgn living book akan bisa menangkap filosofi dalam bacaan.

Jadi tampaknya sangat penting mengenali living book ini supaya bisa membedakannya dari twaddle yang dangkal/garing atau juga abridged (rombakan).
Caranya tentu dengan kita sendiri membaca buku-buku itu.. merasakannya.. unsur-unsur yang didapat ketika membaca buku yang nantinya akan diberikan ke anak.

Anakpun jika sejak usia awal dibiasakan dengan living book, maka anak akan tau kualitas rasanya dibanding membaca buku twaddle ataupun buku yang semata-mata berisikan fakta.

Buku-buku fakta seperti ensiklopedia tidak otomatis ditolak karenanya, tapi itu bisa dijadikan referensi setelah ide masuk ke benak anak. Anak-anak akan mengeksplore banyak hal dari banyak sumber karena pada dasarnya pendidikan adalah ilmu merelasikan banyak hal.
Ibarat makanan, living books adalah makanan utama, jika sesekali ada makanan rekreatif/snack ya bolehlah. 😅

Ketika memahami ini hal ini aku mulai memeriksa bacaan free-read Ben dan Liv. Kebanyakan memang buku cerita, berisikan ide-ide juga sih sepertinya, tapi unsur sastrawi nya yang memang kurang terasa jika dibanding dengan living books.

Ini salah satu buku kesukaan Liv (4 tahun). Dia senang seri ini sejak 3 tahun, mungkin karena warnanya dan gambarnya ya.. minta dibaca berulang-ulang..
Ada jalan ceritanya, dan ada ide/pelajaran terkandung di dalamnya. Tapi kurang naratif dan rasanya tidak sastrawi sama sekali ya. 😅

Buku lainnya aku merasa agak-agak living juga.. haha.. tapi sastrawi nya ini yang aku belum terlalu dapat.

Memang buku-buku sastrawi itu indah dibaca, darinya anak-anak bisa belajar mengungkapkan keindahan dengan naratif.

Memilih bacaan ke anak juga kita perlu menyesuaikan dengan usianya. Di anak yang lebih kecil biasanya mereka suka buku yang ada ilustrasi gambar agak banyak.
Semakin anak besar dan terbiasa dengan bacaannya, maka perhatian ke gambar tidak lagi jadi yang utama.

Awal-awal aku membacakan Winnie The Pooh ke Ben, dia selalu mengkomentari gambarnya, menanyakan mana di gambar yang menunjukkan hal yang dibacakan. Sepertinya ini karena memang buku-bukunya sebelumnya selalu bergambar berwarna meski bukan komik. 
Lalu kujelaskan, buku ini lebih seru kalau abang dengar jalan ceritanya daripada cuma gambarnya saja.
Mulailah dia mencoba lebih banyak mendengar.

Tapi aku sempat meragukan keampuhan living book ini.. 😁
Saat membacakan pertama kali buku Beatrix Potter, seri Jemmima The Duck aku mengira kami akan menyukainya. Tapi Ben dan Liv tidak terlalu paham ceritanya karena ada banyak kata yang belum dikenal dan dugaanku mereka belum terbiasa dengan gaya bahasanya.. banyak makna terisiratnya. Otak harus berpikir mencernanya, tidak langsung bisa dipahami.
Ah iya.. ketika mencerna itu jadi berpikir memang ya.
Mungkin akupun belum terbiasa waktu itu.

Selanjutnya jika aku akan membacakan, aku akan membaca lebih dulu buku itu. Dan biasanya lebih mudah diterima anak-anak.

Karena Ben usianya jelang fase akademis, aku coba membacakan Paddle To The Sea. Dan seketika setelah selesai baca buku itu dia bilang itu buku kesukaannya. Dia semangat sekali menceritakan tentang anak dan perahu kayu buatannya, juga putihnya salju di hutan sekitar kabin dimana anak itu berada.

Jadi untuk mengenali sebuah buku living book atau tidak, kita sebagai orangtua perlu mencicipinya lebih dulu dan ketika membacakannya ke anak kitapun perlu menikmatinya, dengan bagitu anak akan lebih mudah untuk memahami.

Education is an atmosphere, a discipline, and a life.

Kita sebagai orangtua perlu membangun atmosfir belajar juga ke anak-anak dengan menikmati buku-buku yang kita sediakan bagi mereka, dan dalam prosesnya tidak boleh diabaikan tujuan kebiasaan apa yang ingin dilatihkan ke anak melalui bacaannya, dengan begitu ide yang ada dalak bacaannya bisa diterima dan berkembang dalam benak anak.

#narasi #refleksi #livingbooks #diskusisabtupagi

Rabu, 21 April 2021

Book : The Road Less Travelled

Bab 1. Problem dan Kepedihan

Ada kenyataan yang kerap kali enggan diakui dan diterima manusia, yaitu bahwa hidup itu tidak mudah. Tapi ada juga kenyataan bahwa hidup yang tidak mudah itu tidak berlangsung selamanya.

Bagi yang tidak mau menerima bahwa hidup itu tidak mudah akan sering muncul kekecewaan-kekecewaan atas situasi yang diluar ekspektasi.

Pilihan ada di kita, apakah meratapinya saja atau menyelesaikannya ketika diperhadapkan dengan masalah-masalah itu. Juga bagaimana kita melatih anak-anak kita menghadapi masalah, karena suatu saat dia akan berdiri di kakinya sendiri.

Bagian tersulitnya adalah proses menghadapi dan menyelesaikan masalah itu yg seringkali memunculkan segala rasa dan harga yang harus dibayar. Tapi proses itu juga yang membuat hidup jadi lebih bermakna. Dalam proses itu ada pertumbuhan dan pengalaman yang akan menjadi modal untuk mempermudah menghadapi masa sulit lainnya.

Tapi cukup banyak juga kita yang menghindar dari masalah, berpura-pura seakan tidak ada masalah dan berharap seiring waktu berjalan akan pergi juga masalah itu.
Bahkan ada yang berusaha keras untuk lari dari masalah, dan akhirnya keluar dari kenyataan. Disebut juga neurosis yang adalah substitusi dari penderitaan dan cukup banyak yang mengalami neurosis yang berlapis hingga mengalami penderitaan lebih besar daripada yang tadinya dihindari.

Penting menanamkan ke diri kita dan anak-anak kita mengenai kesehatan mental dan spiritual. Juga penting mengajarkan nilai-nilai yang muncul dari penderitaan dan manfaat menghadapi langsung dan kemudian melihat kepedihan yang muncul sebagai pengalaman.

Kabar baiknya, ada disiplin bisa dipakai sebagai perlengkapan untuk menyelasaikan masalah-masalah itu. 
Disiplin yang merupakan seperangkat alat dasar, teknik-teknik penderitaan, bekerja melalui masalah, dan menyelesaikan masalah.
Disiplin itu adalah :
* menunda kebahagiaan
* menerima tanggung jawab
* dedikasi pada kebenaran
* keseimbangan

Poin pentingnya adalah keinginan untuk menggunakan alat ini, dan menggunakannya dengan rasa cinta.

Bab 2. Menunda Kesenangan
Membahas pengalaman seorang analis muda yang cenderung menunda-nunda pekerjaan, dan ternyata penyebabnya (berdasarkan pengamatan kebiasaannya makan kue dan kebiasaan kerjanya) adalah dia mendahulukan hal yang menyenangkan dulu baru nanti bagian yang tidak menyenangkan.

Menunda kesenangan (delay gratification) adalah proses menata rasa sakit dan kesenangan dalam kehidupan untuk meningkatkan kebahagiaan.
Dengan menghadapi dulu rasa sakit/rasa yang tidak menyenangkan lalu menyelesaikannya barulah menikmati kemudahan berikutnya.

Ada yang bisa menghidupi menunda kesenangan dan ada juga yang tidak.. penyebabnya belum diketahui pasti, tapi sebagian besar tanda2 kemunculannya bisa ditelusuri dari kualitas pola asuh sebagai penentunya.

Kerjakan soal yang lebih mudah dulu ? 🤭

Apakah ada trauma : menyelesaikan bagain yg tdk menyenangakn dulu untuk nanti tinggal menikmati yang menyenangkan, ternyata bagian menyenangkannya diambil orang lain. 😆


Bab 3. Dosa Sang Ayah
Cukup sering di masa kanak2, orang mendapat perlakuan dari orangtua dalam bentuk pukulan, tamparan, atau hukuman fisik lainnya atas nama disiplin. Padahal disiplin seperti itu tidak bermakna, tidak jelas pesan yang disampaikan.
Ini bisa terjadi justru karena sang orangtua juga tidak punya disiplin. Seringkali menuntut anak melakukan apa yang dikatakan, bukan yang dilakukan. Padahal anak-anak adalaah peniru ulung.

Seperti apapun situasi keluarga dimana anak dibesarkan, yang terpenting adalah hadirnya cinta. Jika ada cinta di sana maka anak tetap bisa memiliki disiplin diri.

Ketika orang mencintai sesuatu yang bernilai baginya maka dia akan meluangkan waktu untuk bersama, menikmati dan memelihara.
Ketika kita mencintai anak2 kita pastinya kita akan juga meluangkan waktu bersama, mengagumi dan merawat mereka.

Disiplin yg baik memerlukan waktu. Hanya jika kita meluangkan waktu memperhatikan anak2 kitalah kita tau bagaimana menolongnya dalam hal disiplin dalam masa pertumbuhannya. Apa yang dibutuhkannya ketika dia menghadapi/merespon sesuatu, bagaimana memperlakukannya di situasi tertentu, mendengar, tarik ulur, dll.

Kehadiran orangtua mutlak harus bisa dirasakan si anak. Waktu dan kualitas yang dicurahkan ke anak akan menjadi penanda bagi anak seberapa berharga mereka bagi orangtuanya.
Hanya dengan begitulah anak merasa dibersamai. Akan berbeda dengan orangtua yang mengemas dalam bentuk kata2 betapa anak2 bernilai buat mereka tapi tidak meluangkan waktu yang cukup. Anak2 tidak akan pernah bisa dicurangi dengan kata2. Mereka melihat dan merasakan.

Bagi anak2 yang benar2 merasa dicintai, jikapun ada situasi yang tidak mengenakkan, dibawah sadar mereka tetap tau bahwa mereka dikasihi.
Ketika anak2 secara mendalam tau bahwa mereka dikasihi, mereka akan merasa dirinya berharga.
(Refleksi_ jadi paham kenapa jika setiap kali anak2 terbentur/terluka dan aku segera datang meninggalkan yang sedang kukerjakan, mereka akan berulang2 mengingat itu dengan wajah berbinar.. menanyakan : tadi mama langsung datang tolong adek karena mama sayang adek.. ?)

Perasaan bahwa "saya orang yang berharga" adalah hal yg sangat penting dlm kesehatan mental.
Ini perlu dimiliki manusia ketika dia masih kanak2, karena lebih sulit memperolehnya ketika sudah dewasa.
Dan jika rasa merasa berharga itu dimiliki sejak anak2 maka itu akan menetap sampai dewasa (hampir tidak mungkin berubah).

Perasaan berharga memunculkan disiplin diri, karena ketika seseorang merasa dirinya berharga maka dia akan memelihara dirinya dengan berbagai cara.
Jika kita merasa diri kita berharga maka kita akan merasa waktu kita berharga dan ingin menggunakannya sebaik-baiknya.

Pola asuh yg konsisten akan membuat anak memasuki masa dewasanya dengan perasaan yang mendalam bahwa mereka bernilai dan batinnya merasa aman.
(Refleksi: aku ingat rasa ini, rasa yg muncul saat PA dari buku Becoming Woman of God, saat kutemukan bahwa aku berharga bagi Allah dengan semua keberadaanku -termasuk pelanggaran2 masa laluku-. Rasanya bersemangat sekali).

Semua anak merasa takut ditinggalkan.
Jikapun kita harus meninggalkan anak untuk sementara waktu, kita perlu memastikan kepada anak  bahwa kita meninggalkannya tidak selamanya, kita akan kembali dan tepatilah janji itu.
Itu akan membuat anak merasa bahwa dunia tempat yang aman dan ketika diperlukan dia akan mendapat perlindungan.

Dan hal sebaliknya terjadi pada anak yang ketika masa kecilnya ditinggalkan (dengan alasan apapun).

Agar anak bisa mengembangkan kemampuan menunda kesenangan, anak perlu role model disiplin diri, keyakinan bahwa mereka berharga, dan ada rasa aman.
Itu diperoleh dari disiplin diri dan pengasuhan yang konsisten dari kedua orangtuanya.

Minggu, 11 April 2021

Makanan Akal Budi

Setiap anak punya potensi akal budi yang mengagumkan yang akan mengendalikan otak jasmaninya.
Akal budi bersifat spiritual, tidak bisa lelah seperti halnya badan yg bisa lelah.

Kadang orangtua/pendidik mengkondisikan situasi belajar harus menyenangkan.. tapi tidak selalu begitu..
Jgn sampai esensi belajar menjadi hilang karena fokus pada bentukan situasi-situasi yang menyenangkan.

Anak2 perlu tau bahwa belajar itu adalah kebutuhan, terlepas dari menyenangkan atau tidak.
Seperti makan, tidak selalu enak atau disukai tp anak harus tau dia perlu makan makanan bergizi yang disajikan.

Dalam belajar ada urutan yang perlu diperhatikan. Ide muncul dulu, lalu ide itu akan mendesak di benak untuk diuji.
Satu2nya makanan yg tepat bagi akal budi adalah ide-ide yang hidup.
Kita tdk bisa jalankan peran pendidik asal2an. Ketika ide sudah masuk ke benak anak, seharusnyalah kita memberi keleluasan ke anak untuk mengeksplore ide2 itu.

Anak mendapat ide lebih dulu, lalu kemudian dia melakukan percobaan/pengamatan yang akan membekas baginya.

Anak2 bisa mengalami apa yang dia baca.
Ketika ide masuk ke benak anak, biarkan dia mengembangkan.

Jadi ingat suatu kali kami jalan pagi dan Ben melihat dan menunjuk sesuatu di jalan.
Lintah ! Jangan dekat2 bang, dia kalau lengket ke kita bisa menghisap darah.
Itu yang kupikir.. 
Tapi kemudian Ben bilang : "abang pernah lihat ini di buku abang".
Lalu Ben keluarkan buku dari ranselnya yang menampilkan gambar serupa (kebetulan sekali), dan setelah kuamati baik-baik ternyata aku salah. Binatang yg tadi kunamai lintah ternyata ada antena nya seperti di buku Ben, dan binatang itu adalah siput tanpa cangkang.
Lama Ben minta waktu mengamati siput itu, dan enggan diajak pulang.
Akhirnya kami membawa pulang siput tanpa cangkang itu karena Ben tertarik mengamatinya.
Mungkin itu yang disebut membangun relasi.
Buku yang saat itu dibawa adalah buku fakta memang, menarik buatnya karena Ben belum bisa baca.. Tapi benar bahwa ketika ide masuk ke benak anak dan kemudian dia melihat dalam dunia nyata, itu menjadi sesuatu yang sangat menarik baginya.

Seharusnya para orang kunci di lembaga sekolah fokus menyediakan kurikulum yang baik dan sesuai untuk kebutuhan anak. Tapi dalam kenyataannya banyak lembaga pendidikan yang lebih fokus mengurus bagaimana supaya anak2 bisa lulus ujian, dan hal teknis lainnya. Itu jadi semacam tuntutan tujuan pendidikan, seolah tidak ada pilihan lain.

Dampaknya anak-anakpun cenderung mengikuti hal-hal teknis tadi sehingga belajar dengan tujuan lulus tanpa memiliki kepemilikan terhadap ilmu pengetahuan dan hampir tidak ada ide yg dikembangkan.

Pendidikan umum yang ada pada umumnya masih bersifat utilitarian, dimana para pelajar diharapkan punya keterampilan yang banyak, supaya mudah dapat kerja sesuai permintaan pasar.

Padahal kita perlu mengkaji benar kebutuhan anak.

Karena mempercayai anak mampu mencerna setiap pengetahuan, kita harus menyajikan kurikulum yg kaya.
Pendidikan adalah science of relation.
Anak mampu merelasikan hal yang satu dengan hal yang lain.

3 poin membuat sylabus:
1. Anak butuh banyak pengetahuan
2. Pengetahuan harus beragam, menu beragam
3. Pengetahuan disampaikan dengan cara yang tepat

Pengetahuan belum direproduksi jika belum bisa menceritakan ulang. Inilah pentingnya narasi dalam metode pendidikan CM.

Point penting lain yang harus selalu diterapkan adalah single reading (sekali dibacakan).

Hanya dengan habit of attention yg baiklah anak akan mudah belajar apapun nantinya.

Semua anak.. tidak tergantung pada tingkat kecerdasan atau status sosial, bisa mencerna ide2 hidup. 
Adalah kekeliruan jika dianggap banyaknya mata pelajaran dianggap memberatkan anak.
"Menu pangeran" dengan cara yang tepat untuk semua lapisan masyarakat, bisa dinikmati semua anak.

Living books - single reading - naration - short lesson, these are the best for the children.

Yang memberatkan anak bukan mata pelajaran yang banyak, tapi ceramah, pertanyaan-pertanyaan komprehensif, dan tugas-tugas lah yang membuat anak bosan dan kehilangan minat belajar.
Agak mengagetkan, tapi usaha-usaha yang dilakukan kebanyakan guru dengan kerja keras untuk menggembleng anak ternyata justru jadi penghalang bagi anak untuk mengembangkan ide-ide yang ada di benaknya. Kalaupun dikembangkan hanya bisa di dalam "pagar" yg terbatas.

"HENDAKNYA GURU MAKIN SEDIKIT MENGAJAR DAN SISWA MAKIN BANYAK BELAJAR."

#MetodePendidikanCM #DiskusiAkademis #Narasi #Refleksi #DiskusiSabtuPagi

Jumat, 09 April 2021

Seni Narasi

CM berulang kali menyampaikan bahwa pendidikan adalah perkara rohani, dan juga sering menekankan bahwa dalam prosesnya kita perlu beriman. Ini karena pendidikan bukan hal yg semata-mata tampak dari luar saja tapi juga harus mampu menumbuhkan karakter yang baik, memperbaiki sifat dengan tujuan menjadi manusia baik yang berpengetahuan dan berakal budi.

Pendidikan harus mempu mengubah anak. Ini akan bisa diamati dengan adanya perbaikan dari perilaku anak ke arah yang baik hari demi hari.

There's no education but self-education.

CM juga menekankan mengenai pentingnya pendidikan mandiri.
Pendidikan mandiri tidak berarti membiarkan anak belajar sendiri tanpa bimbingan dan hanya mempelajari yang disuka.

Pendidikan mandiri berkaitan dengan diri anak sendiri dimana anak bisa menyadari pertumbuhannya.
(Buatku mungkin ini seperti ketika Ben belajar mengikat tali sepatunya.. ditunjukkan contohnya sambil dia melihat dan mencoba sendiri di sepatunya.. awal-awal dia kesulitan sekali bahkan hampir menangis.. tp esoknya coba lagi.. esoknya lagi.. sampai beberapa hari lalu Ben bilang : "sekarang abang jadi merasa ikat tali sepatu ini mudah". Dia menikmati perubahannya) 

Dalam pendidikan, hal dasar yang harus diyakini oleh orangtua/guru yaitu bahwa anak adalah manusia yang utuh dengan segala kemampuannya mencerna pengetahuan (a born person).

CM mengingatkan untuk tidak menyepelekan kemampuan anak.
Guru/orangtua cukup jadi pembimbing saja, menyediakan asupan ide-ide hidup (materi/bacaan yang isinya berkualitas baik).
Ibarat makanan, biarkan anak mengunyah sendiri makanannya.

Seperti halnya tubuh yang perlu makanan bergizi baik, akal budi pun memerlukan asupan ide-ide hidup yang berkualitas baik.

Jangan beri anak lepehan/kunyahan makanan dari kita/guru, biarkan dia mencerna sendiri. Yang penting adalah memastikan makanan yang diberikan sesuai dengan usia anak.
Setiap anak lahir dengan kemampuan mencerna pengetahuan.
Penting untuk meyakini bahwa anak mampu mencerna pengetahuan yang dia terima.

Dalam metode CM, narasi memegang bagian penting untuk menjadikan apa yang dibaca/dipelajari menjadi bagian diri anak dan kita yang bernarasi.

Narasi adalah bagian dari pilar pendidikan CM : Education is a life (ide2 hidup)

Dari perbandingan 2 bacaan kisah Florence Natingale, terasa beda ketika mendengar dan menarasikan yang dari living book. Lebih indah didengar, menarik untuk dipahami dan lebih mengajak untuk dibayangkan.

Dalam metode pendidikan CM, bacaan yang dinarasikan adalah bacaan yang masuk dalam kategori buku pelajaran di usia akademis anak (6 tahun ke atas).
Point penting dalam narasi adalah single reading, artinya bacaan hanya akan dibacakan satu kali.
Single reading ini melatih habit of attention anak. 
Ketika anak tidak fokus, maka anak kehilangan kesempatan untuk mendengar lagi. Ini akan melatih kesadaran anak bahwa dia hanya akan dibacakan satu kali, dengan begitu dia merasa perlu mendengar dengan penuh perhatian.. setiap kalinya.

Narasi juga melatih kemampuan berkomunikasi, ada proses menceritakan ulang dengan kalimat yang terstrutur dan makna yang jelas.
Ini akan menolong anak memiliki komunikasi yang baik yang akan terus diperlukan selama hidupnya.
Dengan sering latihan narasi, akan melatih anak spy dia punya kesadaran kapan dia harus full attention, kapan boleh agak longgar.

Narasi adalah proses mendengar, lalu informasi menumpuk di kepala, dan ketika kita mengeluarkan informasi tersebut, kita perlu menyampaikan dengan  membuat yang mendengar paham dengan yang disampaikan.

Selain melatih berkomunikasi dengan baik, narasi juga melatih habit of thinking.. mengaktifkan pikiran.. yang akan memicu reaksi akal budi.

Syarat narasi dalam metode pendidikan CM:
1. Living book
Sumber ide dari buku bermutu berupa living books

2. Single reading 
Bacakan hanya sekali -- wajib -- karena tujuan narasi  adalah membangun kebiasaan memusatkan perhatian (habit of attention). Ketika ada habit of attention yang baik maka akan membantunya di proses belajar selanjutnya.

3. Jangan menginterupsi, jangan memberi petunjuk, jangan memberi pertanyaan kompherensif dengan alasan membantu anak.
(Duh.. godaan besar buat emak ini yak.. teguran yang menohok.. haha..😜🤭)
Apapun jenis narasinya, terima apa adanya.
Bagaimana kalau dia salah menangkap ?? dibiarkan kah ? -- jika itu prinsipil koreksi dengan cara yang smooth, misal : "mama mau narasi juga ya.. kali ini aja... tadi bla..bla..bla."

Education in atmosphere... sikap yang kita tunjukkan itulah atmosfir yang diserap anak.. kita perlu menikmati cerita itu, sehingga atmosfir itu juga yang diterima anak-anak
Proses narasi seringkali gagal karena orangtua merasa karena semata2 buku nya sudah living book,.. orangtua tidak menikmati buku itu.. padahal ketika kita menikmati buku itu ketika membacakannya, anakpun bisa menikmatinya.

4. Percaya akan kemampuan anak
Narasi adalah kemampuan anak mencerna bacaannya. Hargai apapun yang ada. Terima kalau kemampuannya masih di situ.
Butuh iman. Percaya anak bisa dan akan meningkat kemampuannya nantinya jika sering latihan narasi.
Education of a science of relation..
Segala sesuatu di alam ini berelasi, dan narasi adalah salah satu cara anak untuk merelasikan banyak hal yang pernah dia baca/alami/pelajari

5. Children are born persons, terima anak dengan prosesnya. Gak perlu dibanding2kan dengan anak lain (tapi bisa dibandingkan dengan anak sendiri di waktu sebelumnya).
Tahapan narasi, starts small.
Jangan ekspektasi banyak untuk anak2 yang baru mulai. Mulailah dari bacaan singkat dan harus konsisten setiap hari. 

Narasi dilakukan bertahap, nantinya akan mengasah kemampuan menulis juga. 
Tata bahasa dicek belakangan, minta anak yang mengkoreksi sendiri.

Pertama kali baca parables of nature, kuminta narasi tapi Ben diam.. akhirnya ku pancing : tadi ada binatang apa aja ? Disebutin.. Sorenya ketika lihat ulat di taman dan kupu-kupu baru dia kayak ingat bacaan tadi lalu narasi sedikit tentang bacaannya tadi.. 🤭
Kayak telat banget ya narasinya.. tapi bukankah dia sedang di masa awal belajar narasi.
1 kata pun hargai.. jika terasa lambatpun hargai.. hargai dan beri ruang dia mencerna ide yang dia terima sambil konsisten melatihkan.

Starts small and appreciate whatever it is.

#MetodePendidikanCM #DiskusiAkademis #Narasi #Refleksi 

Senin, 05 April 2021

Pejalan yang Senang dan Teman Seperjalanan yang Menyenangkan

Pagi ini bapakke kembali WFO setelah 4 bulan WFH. Kembali ke rutinitas sebelumnya, bangun lebih awal - masak sarapan - bekal - dst.
Tidak ada masalah dgn itu.. jam 5an anak2 bangun ketika aku sudah selesai masak dan tinggal beberes.

Bisa jalan pagi lebih awal pikirku.. aku senang kalau kami bisa keluar jalan pagi ketika masih remang2.
Anak2 biasanya kubiarkan membawa yang mereka ingin bawa ketika jalan pagi.
AdekLiv bawa balon.. Ben bawa pipa susun (mainan lama yg baru dikeluarin lagi kemarin ketika beberes) yg dari kemarin dia suka bentuk jadi ini itu. 

Sudah diingatkan untuk bawa yang tidak merepotkan, karena akan urus sendiri apa yang dibawa sampai pulang.
Tapi paham sih dengan pikirannya bahwa dia justru mau pakai itu untuk menikmati jalan paginya, jadi teropong, dll.
Sudah menduga kalau itu akan berpotensi jadi masalah, tapi karena "gak ada noda gak belajar" jadi kasih ruanglah untuk merasakan dulu.

Jalan pagi dimulai dgn baik.. sampai 10meter jalan mulailah itu pipanya membuatnya ribet.. aku dan Liv terus jalan.. pipanya mulai jatuh dr pinggang yg tadi di ala2in jadi pedang.
Mulai ribet mungut, sementara adekLiv pengen melaju.
Kutunggu Ben.. lalu ketika mendekat kuraih tangannya dia seperti bertahan.. tanda2 dia kesal (dengan kerepotannya dan merasa ditinggal karena kami jalan duluan).
Okay.. aku tidak siap dengan situasi ini.. perjalanan baru dimulai tapi sudah tidak kondusif.

Abang kesal ?
Dia diam.

"Ok kita pulang,.. gak ada gunanya jalan pagi kalau kesal2.. mama gak bisa handle kalian berdua jalan kalau gini".

Mulai nangis dia.. menahan mama yang sudah berubah arah jalan..
"Mau jalaaann, maa", katanya Ben ngotot.
Tenaganya untuk menahan ku berbalik tidak bisa diabaikan.. kuat sekali pelukannya,.. gak bisa gerak aku.. whew..
Tapi tentu saja keputusan tidak berubah meski sepanjang jalan kembali ke rumah ada drama "menahan dan melepas".

Sampai di rumah masih nangis dianya dan mamaknya dipepet terus.. paling gak bisa dia kalau didiamin tapi dia tau juga akan percuma ngotot sama mamaknya.

"Kita bicara lagi kalau udah sama2 tenang.. abang pikir tentang tadi sambil atur nafas tenangin diri.. mama juga.. kalau udah tenang langsung mandi.. kalau nggak mau mandi tidak usah mandi seharian.. abang yang pilih".
#mamakesal #tombolpause

Tidak selalu mulus hari-hari meski sudah direncanakan dengan baik.

Setelah mandi mereka sarapan,.. bapakke berangkat.. lalu sambil mama cuci piring mama ajak Ben ngobrol membahas yang tadi.
Kenapa disambi nyuci piring ? Dulu aku validasi emosi Ben selalu coba sambil duduk dan kontak mata, tapi kulihat di posisi itu seringnya dia cenderung banyak diamnya dan berasa kayak tersangka gt (mungkin). Jadi untuk Ben, sambil melakukan hal lain (yang memungkinkan tetap fokus padanya) justru lebih menolong untuk menggali isi hatinya.

Abang udah tenang ? Bisa bicara kita ?
- Iya ma.. udah tenang.

Tadi kenapa kita ?
- (Tarik-lepas nafas) Abang tadi bawa mainan banyak jadinya abang banyak berhentinya... Abang bikin suasanaya jadi rusak untuk jalan pagi.

Tadi waktu mama mau pegang abang, abang gak mau.. itu kenapa ? abang kesal ?
- Iya, ma.. abang kesal *hela nafas

Abang kesal kenapa ?
- Karena mama sama adek udah jauh dari abang.

Kenapa tadi kita jadi jauh ?
- Karena abang repot dengan mainan abang.

Mama udah bilang dari rumah belum kalau itu bisa bikin abang repot ?
- Iya.. mama udah bilang.. tp abang mau pakai buat kayak jadi magnifiying glass.. tapi jadinya abang repot waktu dia jatuh2.. 

Terus tadi akibatnya apa ?
- ... (diam)

Kita jadi jalan pagi gak tadi ?
- Gak jadi.. karena jadi nggak enak suasananya abang bikin.

Terus abang belajar apa dari situ ?
- Kalau mau jalan pagi jangan bawa mainan banyak2 yg bikin abang repot dan jadi lambat dan kesal-kesal.

Mama  sayang abang, gak bakalan tinggalin... Kalaupun kesal akan baik lagi.. tapi mama gak mau abang kebiasaan bikin suasana jadi gak enak.. tadi kita udah mulai jalan dengan seru2.. tp gak lanjut jadinya.  
Tadi itu begitu kerepotan abang bisa lho minta berhenti dulu terus kembalikan sebagian ke rumah.. gak perlu ngambek2.. atau bisa minta waktu ke mama untuk tunggu abang juga.. tapi ngomong.. bukan diam tapi kesal.
Dan kalau misal terulang lagi gitu, gak usah tahan2 mama di jalan ya.. mengganggu orang sekitar kalau kita ribut di jalan.
- Iya, ma.
#berpelukan
.
Aku memang agak concern dengan "jangan merusak suasana" ini.
Karena aku ingin melatih anakku tidak hanya bisa mengelola rasa tidak nyamannya tapi juga untuk tidak menjadi pengganggu/toxic bagi sekitarnya.
Menjadi pejalan yang senang dan teman seperjalanan yang menyenangkan.

Mungkin ini bentuk dari rasa tidak sukaku terhadap orang2 (mungkin aku termasuk juga) yang benci/tidak puas dengan sesuatu kemudian meracuni/mempengaruhi orang2 dengan rasa bencinya (sadar atau tidak sadar).. seolah kalau dia tidak bahagia, orang lain juga gak boleh bahagia.
😓

Kalau orang di luar sana udah jauh dari kendaliku, tapi anak2 ku ketika dia dalam otoritasku aku berusaha menanamkan nilai2 yang berguna buatnya dan sekitarnya kelak.

Sejak kecil aku terbiasa dengan nasihat mamakku :
"Adi la beluh mpekena, encedai lah gia ula" (bahasa Karo, artinya : kalau kita tidak bisa memperbaiki, setidaknya jangan juga merusak).

Ini menolongku untuk berusaha mengelola rasa tidak nyamanku, dan tidak ngajak-ngajak orang rusuh.
Dalam kehidupan nyatanya, ketika menghadapi rasa tidak nyaman jika memang harus dijalani maka akan berusaha untuk menemukan yang menarik di situ di ketidaknyamanan itu.. kalau nggak bisa ya udah tinggalkan. Tidak perlu bertahan tapi terus bersungut2 menularkan energi negatif ke sekitar. 
Take it (find the way to live in it happily) or leave it.

Tadi sempat terpikir, gimana ini penampakannya di CCTV tetangga.. karena memang tampaknya drama "tahan-lepas" tadi kayak anak harus pulang karena mamaknya keras.. agak dorong juga ketika dia menahan.. 😥🤭
Tapi yawdala ya.. think first things.. pikiran orang di luar kendaliku, aku melakukan yang menurutku harus kulakukan.

Semoga dikuatkan menjalani setiap warna-warni ya, parents. 🙏🏻😇

#momenttoremember #parenthood #motherhood
#childhood #abangBen #6y9m #beenhere

Sabtu, 03 April 2021

Pendidikan Mandiri

Ketika mendengar istilah pendidikan mandiri, yang terpikir adalah hal2 yang menyenangkan semacam kebebasan menentukan hal-hal dan cara-cara yang bisa diberikan pada anak di fase akademisnyam
(Aku jg sempat berpikir bahwa pendidikan mandiri adalah proses pendidikan anak dimana orangtua memikirkan/mengusahakan sendiri kurikulum yang diberikan ke anak, tanpa ikatan/panduan wajib yang harus diikuti dari lembaga-lembaga tertentu.)

Ada banyak teknik2 pendidikan yang bisa diberikan dalam rangka melatih tubuh, pikiran anak.
Tapi sebenarnya karakter dibangun dr dalam diri anak. Teknik2 pendidikan dr luar cenderung tidak membekas lama karena dilakukan seringkali cara menyampaikannya tidak dengan pengertian akan tujuannya.

Pendidikan anak seharusnya tidak dilevel permukaan saja (tidak hanya fokus pada yang bisa dipertujukkan).

Perumpamaan anak seperti tanaman tidak tepat, karakteristiknya jauh berbeda. Anak tidak bisa dibentuk suka2 seperti halnya tanaman di tangan tukang kebun, karena anak adalah pribadi yang utuh yang berkehendak.
Akal budi anak perlu bernafas dan berkembang, itu bisa terjadi hanya jika dapat asupan yang baik melalui ide2 (yang dilihat di lingkungan dia bertumbuh,  bacaan yg berisi ide2 hidup).
Anak akan mengasosiasi ide2 yg dia terima dengan atmosfir di sekitarnya.

Akal budi perlu makanan seperti halnya makanan untuk tubuh. -- menyajikan ide2 dan membangun atmosfir kebiasaan2 baik di rumah.
Mengenai kapan ide nya terpantik, bisa kapan saja, yg penting ide itu sudah ada dalam benaknya. Akan ada waktunya ide itu hidup.
Tindakan akan mengikuti jika kita merefleksikan sesuatu dengan sungguh2.

Progress perilaku/perkembangan anak perlu dilihat untuk mengecek kecukupan "gizi" akal budinya.

Kurikulum/ide2 kaya ttp harus diberikan (tetap memantik),.. tidak hanya di bagian yg diminati anak. 
Kita mengenalkan ke anak suatu hal bukan supaya dia pakar disitu tp supaya anak lebih bisa menikmati  dan menghargai nilai2 yg ada dlm hal itu.

Kita perlu secara berkala memeriksa apakah nutrisi / asupan ide2 yang kita berikan ke anak sudah memenuhi kebutuhan anak. Bisa dilakukan dengan mengamati perkembangan perilaku dan cara anak merespon sesuatu.
(Menurutku perlu membuat jurnal/catatan perkembangan anak, dengan bagitu kita bisa membandingkan anak saat ini dengan dia yang sebelumnya. Jangan membandingkan dengan anak lain yg sebaya sekalipun karena situasinya hampir pasti berbeda).

Hidup budi tergantung ide2 yang diberikan.. tetap harus dipaparkan berkali2, seperti halnya nutrisi yang diberikan pada tubuh.

Ketika kita memberi makanan utuh, kita harus menghargai kemampuan mengunyah anak.

Nutrisi yg tepat untuk akal budi adalah asupan gagasan atau ide sesuai usia/kemampuannya.
Budi anak bisa mencerna sendiri makanannya jika sesuai fasenya.

Pendidikan mandiri : pendidikan yang dilakukan oleh orangtua dengan memberikan ide-ide hidup kepada anak sesuai fasenya dan membiarkan anak mencerna sendiri, tapi tetap perlu mengamati apakah ide-ide itu bisa dicerna anak.

#Narasi #Refleksi #DiskusiSabtuPagi




Minggu, 07 Maret 2021

HE Saturday Discussion - Country Air, Solar Light, and Habit Training

Masih berkaitan dengan bacaan di beberapa chapter sebelumnya yang pernah dibahas, mengenai pentingnya oksigen bagi manusia terutama anak-anak karena mereka dalam masa pertumbuhan sehingga jaringan, sel, dan organ-organ tubuhnya lebih memerlukan oksigen untuk berkembang dengan baik.
Kali ini ditekankan mengenai oksigen yang diperlukan itu adalah oksigen (yang setara) dengan yang tersedia di pedesaan, artinya sebisa mungkin yang bebas polusi dan menyegarkan, juga meminimalkan menghirup udara yang mengandung gas karbon dioksida hsail proses pembakaran yang ada di sekitar bahkan output pernafasan manusia dalam populasi yang banyak pun termasuk di dalamnya.

"....for the children—who not only breathe, but grow; who require, proportionately, more oxygen than adults need for their vital processes—it is absolutely cruel not to give them very frequent, if not daily, copious draughts of unvitiated, unimpoverished air, the sort of air that can be had only remote from towns."
(CM, Home Education Vol.1)

Bahkan CM mengatakan adalah jahat jika tidak menyediakan bagi anak kualitas udara yang baik sesering mungkin. 🤔

Sejenak kita2 emak-emak pada halu.. merindukan kebun raya Cibodas, kampung halaman, dan beberapa tempat hijau lainnya 🧚.
Membayangkannya saja sudah senang..😆🤗

Salah satu penerapan praktis yang bisa dilakukan adalah mengusahakan sesering mungkin nature walking di area yang masih banyak pepohonan.

Hal lain yang sama pentingnya adalah asupan sinar matahari. Ada suatu proses dalam darah yang sangat terbantu dengan cukupnya asupan sinar matahari.

Berikutnya membahas postur ideal anak, dan kita semua sepakat dengan bu CM bahwa fisik ideal anak bukan tentang gemuk atau kurus, tapi output perilaku keseharian anak.. pancaran mata, keterbukaan, suara yang jelas, gerakan-gerakan yang stabil, dll.

"....the bright eyes, the open regard, the springing step; the tones, clear as a bell; the agile, graceful movements that characterise the well-brought-up child, are the result, not of bodily well being only, but of ‘mind and soul according well,’ of a quick, trained intelligence, and of a moral nature habituated to the ‘joy of self control.’"
(CM, Home Education Vol.1)

Sempat membahas sedikit tentang bawaan alami, sering disebut bawaan lahir/orok 😁 dan kaitannya dengan pelatihan kebiasaan baik.
Bagian kita orangtua untuk menolong anak memiliki kebiasaan baik sedini mungkin, ibarat meletakkan rel kehidupan dimana anak akan meluncur.

Suatu kebiasaan yang sudah melekat akan sulit untuk hilang, tapi jika dibiarkan keluar jalur maka akan perlu energi lebih besar untuk mengembalikan ke jalur.. tapi tetal memungkinkan dilakukan.

Dan seringkali kita temukan dalam prosesnya kita orangtua yang perlu lebih dulu melatih diri dengan kebiasaan-kebiasaan baik untuk membangun atmosfir keluarga yang nantinya akan ditiru anak.
Bertumbuh bersama anak-anak. 😊