Rabu, 17 April 2013

Rendang



Rabu malam, lembur nunggu papamo yang terjebak macet akibat hujan di fatmawati (kebayang dong kayak apa macetnya.. gak hujan aja mangcet habis,.. apalagi deeehh)

Ada message masuk di pearl, ternyata dari si cantik pengantin baru yang menikah di Medan 6 April 2013 lalu.

“Kak Nata, mamamo *kecup. Sharing resep rendangnya yang enak dan empuk kemarin dong”

Whew,.. kaget binti bingung aye.. gimana sharingnya secara aye masak gak pernah pake takaran *tepok jidat*.
Ga tau juga rendang yang kemarin rendang padang atau bukan, yang jelas itu resep rendang yang diajarkan mamak q sejak kecil.. sejak masuk dapur dulu, dikombinasikan dengan selera mantan pacar q tercinta papamo.
Kuatir juga salah sharing resep ntar ga jadi pulak rendangnya (wah, jadi keluar gini batak q).

Yah dicoba merumuskan resep rendangnya ya…

Bahan :
·       ½ kg Daging sapi + ½ kg hati sapi, dipotong dgn ukuran yang diinginkan
(kalau gak mau makan hati –dalam arti sebenarnya-, bisa di skip)
·       3 Buah kentang besar, kupas dan potong dgn ukuran sesuai selera; bisa pakai kentang kecil yang bulat2 itu juga (ini selera papamo, boleh di skip)
·       3 sdm olive oil (minyak goreng jg boleh)
·       1 butir kelapa parut  :
a.   1/4 bagian kelapa disangrai sampai agak kering kecoklatan tp jangan gosong kemudian dihaluskan, bisa diblender kering atau diulek – ini bagian yang wajib buat q kalau masak rendang-sisihkan;
b.   2/4 bagian disiram air hangat 2 gelas (400ml), peras jadi santan kental – sisihkan ;
c.   1/4 bagian lainnya dicampur dengan kelapa bekas perasan santan kental untuk dijadikan santan encer – supaya jadi santan encer yang tidak terlalu encer

Bumbu Halus :
·       Cabe merah 10 buah, cabe rawit 5 buah
·       Bawang merah 10 buah
·       Bawang putih 5 buah
·       Jahe sebesar jempol
·       Kunyit 2 ruas kelingking – better dibakar dulu, gak jg gpp
·       Kemiri 5 btr, sangrai/gongseng (bukan goreng ya)
·       ½ sdm ketumbar

Bumbu Lain :
·       Lengkuas ½ jempol – digeprak/dimemarkan
·       Sereh 2 batang – digeprak/dimemarkan
·       Pala ½ sdt (*ga wajib) – digeprak
·       Daun kunyit (1 helai)
·       Daun salam (2 lembar)
·       Daun jeruk (3 lembar, buang batangnya)
·       Daun bawang (bawang prei) 2 batang, dipotong-potong

Memasak :
1.   Panaskan olive oil di wajan dgn api sedang, tumis bumbu halus, aduk sampai aromanya keluar; masukkan lengkuas, sereh, pala, daun kunyit, daun salam, dan daun jeruk.
2.   Masukkan daging + hati ke tumisan.. aduk rata…
3.  Masukkan santan encer sampai dagingnya terbenam, masukkan garam secukupnya, aduk rata, diamkan dengan api sedang
(bagian ini yang agak lama, 1-2 jam tergantung dagingnya sampai empuk.. bisa disambi beres2 rumah, tapi intip masakan kita setiap 10 menit,.. kalau airnya mulai tinggal sedikit dan dagingnya belum empuk, tambahkan lagi santan encernya)
4. Kalau dagingnya sudah mulai matang masukkan kentang. (atau boleh juga kentangnya sudah direbus/dikukus terpisah). Tunggu sampai kentang dan dagingnya matang, juga kuahnya meresap. Cicip rasa garam & pedasnya.
5.   Masukkan santan kental, potongan daun bawang dan kelapa sangrai halus; jaga agar santan kental tidak pecah.. aduk seperlunya sampai mengental dengan api sedang yang dikecilkan (nah lho..haha), gak boleh ditinggal ye,.. rentan gosong…
6.   Matang deh,.. siap disajikan.

Ni resepnya dibuat sambil terbayang-bayang sedang masak lo,.. jadi mudah2an sih udah pas.. haha..

Silakan dimodif seperlunya.. hehe..

Umumnya sih orang buat rendang ga pake santan encer,.. semua pakai kental dari beberapa butir kelapa. Berhubung kami sizenya sudah cukup (ehm) jadi memang kelapa dipakai seminim mungkin.
Dan buat q bagian terpenting buat rendang adalah kelapa sangrainya,… buat hayum dan gurih.. dibanyakin aja gpp.. itu yang buat “ampas” rendangnya lebih enak. Oya, kelapa sangrainya ini yang belum diperas yaa..

Ada carcepnya juga sih kalo nggak mau rempong or pas lagi buru2 pengen masak rendang… ahaha..
Waktu ke pasar, minta tukang daging potong2 dengan ukuran rendang, terus mampir tukang bumbu jadi ulek, bilang : “bumbu rendang untuk daging 1 kg), n kelapanya juga minta yang udah diparut.
Tapi khusus buat yang disangrai, diolah sendiri yah…
Kadang tukang jual bumbu ada yang udah kasih juga, tapi biasanya “campurannya” udah ga jelas.. jadi enakan buat sendiri.. repot dikit tapi enak.. J

Oya, point memasak 1&2 bisa juga ga pakai numis,.. jadi dari awal santan encer sudah dicampur dengan bumbu2 dan daging… dimasak sampai point 4.
Berhubung aq suka aroma tumisan bumbu, jadi aq lebih sering numis bumbunya..

Met berkreasi yaaaaaaaaa….

Written for : CSAD 

Rabu, 16 Januari 2013

MamaMo



Entah bagaimana dan mulai kapan nama ini tercipta dan mulai melekat.. tapi yang pasti aku memang mama dari seseorang yang di namanya ada “mo”. 
Ini sangat melekat dan sangat tidak ingin kuhilangkan.. ya, tidak mungkin dan tidak ingin kuhilangkan huruf indah itu dari hidupku…

Anak sulungku yang terlalu cepat dipanggil pulang ke Bapa.. Moses,..  bayi tampan itu yang bertumbuh 39 minggu dalam kandunganku dan hidup di muka bumi selama 40 hari.. yang bahkan sampai hari ini masih bisa kubayangkan tendangan-tendangan kecilnya di dalam perutku, dan juga mudah kubayangkan gerak-geriknya selama 40 hari hidupnya di bumi.. 

I do miss him so much..
Beberapa orang mungkin ‘menyepelekan’ kehadirannya yang ‘hanya’ 40 hari.. tapi mereka tidak tau betapa berkualitasnya hubungan kami di 40 hari itu.. 
Terkadang agak kesal ketika ada yang berkata : “owh, meninggalnya masih kecil gitu ya.. belum banyak kenanganlah.. nanti juga ada lagi”.
Plakkk…!!! Ini yang ingin kulakukan di awal2 mendengar kalimat seperti itu,. Entah kemana arah “plakk” itu,.. bisa ke meja, dinding, pintu, atau ke sumber kalimat itu..

Tapi seiring berjalannya waktu, aku belajar untuk lebih memahami bahwa orang tidak akan bisa memahami apa yang mereka tidak pernah alami,.. betapapun mereka mencoba meyakinkan bahwa mereka mengerti..

Hidup memang harus terus berjalan… dan Moses kecilku pun kuyakin terus bertumbuh disana… aq tetap mama Moses.. 

Beberapa waktu aku sempat gelisah jika suatu saat aku “terpaksa” melepaskan label mama Moses dengan alasan-alasan tertentu (adat, kartu keluarga, etc).. aq tidak ingin melepas nama itu.. dan terpikirlah nama itu.. 

MamaMo.. 

Moses adalah Mo pertama ku,.. jika Tuhan berkenan suatu saat Moses punya adik, maka mereka akan menjadi Mo kedua dan Mo ketiga.. mereka akan punya 2 huruf indah itu di namanya..

Jadi aku akan tetap jadi MamaMo..

Selasa, 24 Juli 2012

My Cute Little Son, Moses


Jumat, 20 Juli 2012 usia kehamilan q 39 minggu.. seminggu lagi adalah hari perkiraan lahirnya baby M. Iseng2 q colek baby M (perut buncit q) dan bilang : “lahir besok yok dek,.. biar tanggalnya sama dengan tanggal pernikahan mama dan papa.. besok 13 bulan nikahan mama papa,.. kombinasi tanggalnya lumayan bagus lagi dek, 21-07-12”. Sudah sangat sering mengajaknya ngobrol tentang apapun bahkan tentang hal yang sepele sekalipun.. kami sudah bersahabat begitu aq tau dia ada dalam rahim q.. dan ngobrol “sendiri berdua”  dengannya sudah jadi makanan sehari-hari..  

Jumat sore itu badan q berasa meriang,.. berhubung ketika hamil 34 minggu sebelumnya aq pernah demam dan dirawat di rumah sakit 2 hari, jadi aq langsung memantau suhu badan q dengan termometer. Sore itu 36.8. Malamnya agak sulit tidur, q ukur lagi suhu badan q ternyata naik 37.3. Jam 12 malam terbangun lagi dan badan q benar2 ga enak,.. ketika q ukur suhu badan sudah menunjukkan 37.8. Karena kuatir akan demam tinggi dan membuat denyut bayi q “ngebut” lagi, maka sabtu dini hari jam 01.30 kami (aq, bang De dan mama q) segera pesan taksi dan berangkat ke RSPI.

(red_sewaktu obname di kehamilan 34 minggu sebelumnya, aq baru tau kalau ibu hamil itu terutama di trisemester 3 jangan sampai demam, karena air ketuban itu pada dasarnya hangat. Jika ibu hamil demam naik 1 derajat, yang di dalam naiknya 2 derajat.. makanya bayi di dalam kandungan denyut jantungnya jadi cepat. Normalnya 120-160. Waktu itu ketika aq demam, denyut baby M diatas 180 terus dan beberapa kali diatas 200. Jadi geraknya sangat banyak,.. untuk baby M saat itu lehernya terlilit tali pusat  1 lilitan tapi menurut dokter tidak kencang, jadi sirkulasi darah ke janin tidak terganggu sama sekali. Begitu demam q turun, segera juga denyutnya stabil kembali di range 120-160 itu. Padahal ketika obname juga hanya diberi panadol untuk menurunkan demam, tidak diinfus dan tidak ada obat macam2. Waktu itu sempat diberi suntikan pematang paru2, untuk jaga2 kalau tetap demam dan bayi harus dilahirkan. Bersyukur 2 hari istirahat total, semua normal kembali. Kehamilan bisa dilanjutkan sampai cukup umur) 

Sabtu, 21 Juli 2012 dini hari sekitar jam 2 sampai di RSPI langsung ke ruang observasi lt.3 dan ternyata benar demam, suhu 38.5. Bidan yang piket menghubungi dokter kandungan q (Dr. Yuslam Edi Fidianto, SPOG) dan diberi penurun demam melalui infus (tramadol). Demam agak turun tapi kemudian naik lagi,.. sekitar 2 kali diberi penurun demam tapi sampai jam 10 demam q masih muncul lagi,.. cek darah sudah diambil dan hasilnya semua baik.. lekosit bagus, DB-thypus-campak-malaria dicek semua hasilnya negatif.
Sekitar jam 11 dokter q melakukan USG, denyut jantung bayi q cukup tinggi karena aq demam,.. karena pagi itu sudah beberapa kali diusahakan untuk menurunkan demam q tapi tidak turun juga maka dokter mengatakan : “jika kita beri penurun demam sekali lagi tapi masih tetap naik lagi suhunya, kita harus siapkan operasi”. Sedihnya hati q saat itu,.. aq sangat2 ingin melahirkan dengan alami tanpa c-sectio, tapi situasi tidak memungkinkan. Aq belum mules, bayi belum masuk ke panggul, denyut jantungnya sudah tinggi,... terlalu beresiko bahkan tidak memungkinkan untuk melahirkan alami kata dokter. Jadi aq hanya berharap agar penurun demam yang berikutnya membuat q stabil dan bisa menunggu sampai HPL minggu depan. Tapi keadaan tidak mendukung,.. demam q tetap saja datang lagi.. Akhirnya persetujuan untuk c-sectio pun harus diberikan. Kata mama q : “mumpung kamu masih cukup kuat dan bayimu juga kuat gpp dioperasi aja,... kalo nuggu minggu depan juga belum tentu bisa lahir normal/alami”, dan suami q juga mendukung. Ya sudahlah, operasi akhirnya dijadwalkan untuk jam 17.00 sore itu.

Jam 16.30 aq dibawa ke lt.2 untuk menjalani operasi,.. deg2an rasanya ketika suami q dan mama q disuruh menunggu diluar.. benar2 merasa “sendiri berdua” bersama bayi dalam perut q,.. saat itu aq berdoa supaya Allah menemani kami dan menolong kami melewati operasi itu dengan baik... Saat itu suhu badan q 39.5 dan sebelum masuk ke ruang operasi demam q “dipaksa” turun, jarum infus q diganti yang lebih besar supaya obat penurun demamnya lebih cepat bekerja. Begitu masuk ruang operasi, dokter anastesi menyuruh q “membungkuk udang” dan segera bekerja melakukan suntikan di tulang punggung sekitar pinggang... dan beberapa waktu kemudian mati rasalah semua separuh badan q kebawah. Kemudian aq dibaringkan di meja/kasur operasi, dan di depan q dipasang semacam tirai pendek sehingga aq tidak bisa melihat langsung ke bagian bawah badan q.
Rasanya mengantuk sekali dan ruangan itu terasa dinginn,.. mereka mulai mengerjakan tugasnya.. aq masih bisa mendengar dokter itu ngerumpi dengan bidan2 yang sambil menyiapkan peralatan operasi menunggu dokter kandungan q datang. Sayup2 (karena ngantuk) terdengar dokter kandungan q datang dan mengatakan “kita mulai ya”. Dokter anastesi yang sudah bebas tugas berdiri di belakang kepala q sambil mengatakan aktifitas apa yang sedang terjadi dibalik layar.. aq mendengar sambil mengantuk,.. sampai kantuk q hilang ketika dokter itu bilang : “oke bu,.. bayinya akan dilahirkan... sekarang”
Tiba2 dari layar di depan q naik sesosok bayi yang bersuara “ooooaaaaa...ooooaaaaaa....oooaaaaaa..dst”. aq melirik ke tempat dia dibersihkan,.. rasanya campur aduuuk... terharuu... bersyukur... senang... kayak mimpi yang jadi kenyataan rasanya... aq punya bayii... dan bayi itu bernama Moses.

Dia sehat, apgar test 91/0. Sehat terus, sayang.

Look at us... :D

Moses & Mama (Me)
 Sayangnya karena aq masih demam, bayi q tidak boleh IMD,... setelah dibersihkan Moses dibawa keluar ruangan dan aq masih menunggu “dirapihkan”.
Keluar dari ruang operasi, meski masih menggigil aq bersyukur di pintu keluar itu orang2 yang q cinta itu masih berada disana.. bisa melihat mereka lagi.. dan ada beberapa saudara yang juga sudah datang.. katanya bayi q sehat sekali, berat 3.15kg dan panjang 48cm. Tapi kami masih harus pisah dulu,.. Moses di ruang bayi di lt.3 dan aq di lt.5 di ruang perawatan umum karena masih demam. Gpp, yang penting anak q sehat.. 

Bayi kecil q bernama Aelius Moses Partahi Silitonga. (Aelius : matahari/terang ; Moses : sosok pemimpin yang mengasihi Allah; Partahi : pembawa pesan/penasehat/orang bijak). Jadi arti namanya : pemimpin yang mengasihi Allah yang akan menjadi pembawa pesan yang terlihat jelas seperti matahari.

Aq mama Moses.. :D 
Moses & Papa
Moses & Nek Karo (My Mom)
Karo ngajarin Papa Moses gendong