Senin, 30 November 2020

Home Education (22) - Kehendak yang Terlatih

[The Kingdom of Mansoul is Charlotte Mason's way of explaining how we use our will to control our impulses and actions. The place that those things originate is within us, in our souls. So she calls this the Kingdom of Mansoul--the inner person within each of us.]

CM menggambarkan jiwa manusia ibarat sebuah kerajaan dimana kehendak (will) kita menjadi pengendali setiap respon dan tindakan kita. 

Setiap anak di usia tertentu memiliki kewajiban untuk mengatur kerajaan jiwa nya (governing the Kingdom of Mansoul), dan tugas orangtua lah untuk mengajarkan anak untuk hal itu dan bagaimana cara melakukannya. mengatur kerajaan jiwa seperti halnya mengatur kota dengan aturan yang baik.

Kehendak (will) memegang peran terpenting dan harus dilatih agar kehendak ini  terbiasa menggunakan otoritasnya. Dengan kata lain kehendak haruslah kuat agar bisa mengendalikan tindakan dalam diri.

Di orang-orang tertentu yang sejak lahir hidupnya mudah dan terfasilitasi dengan sangat baik mungkin dampak kehendak yang kuat tidak terlalu terlihat, tapi jika diamati tetap terlihat bedanya yang berkendak kuat dengan yang tidak. Dan tingkat intelektual yang tinggi sesorang tidak menjamin bahwa orang tersebut mempunyai kehendak yang kuat.

Kekuatan karakter seseorang berawal dari kehendak yang kuat. Kehendak yang dilatih membangn tekad yang kuat yang bisa mengarahkan hidupnya sendiri.

Tanpa kehendak yang kuat anak bisa ikut arus saja.. perlunya kita melatih kehendak anak karena suatu saat anak akan jauh dari kita. Ketika dibawah otoritas kita, kita bisa bisa meneguhkan will nya.. kalau sudah jauh dari kita ? 

Kehendak harus dilatih, harus diberi makan layaknya anggota tubuh lainnya. Kehendak mengendalikan nafsu dan emosi, mengarahkan hasrat/keinginan ke saluran yang tepat, dan mengatur nafsu/selera jasmani. 

Ada kesalahpahaman yang umum terjadi di masyarakat dalam menilai anak/orang yang memiliki kehendak kuat. Seringkali anak yang ngotot-an, mudah tantrum jika keinginannya tidak tercapai dianggap sebagai seseorang yang memiliki kehendak yang kuat. Padahal justru itu menandakan bahwa anak tersebut kehendaknya lemah atau malah tidak punya kehendak, sehingga tidak bisa mengendalikan dirinya. Menyangka "kengototan anak untuk memberontak" adalah "will yg kuat" padahal justru tidak punya kehendak, dan itu perlu dilatih. Di bagian ini aku teringat diskusi Vol-1 awal-awal mengenai "habit is ten nature". Semua bisa dilatih karena habit bahkan bisa mengubah nature seseorang.

Jadi ingat ketika Liv di usia 2. Mudah tantrum, gampang ngambek, dan jika keinginannya tidak dipenuhi maka dia akan nangis dan tidak mau beranjak. Mamaku sempat bilang sepertinya ini orangnya berkemauan keras. Ternyata bukan ya memang.. haha. Bersyukur kalau saat itu kita sepakat untuk tidak menurutinya dan setiap kali kengototannya berulang dia tidak dituruti tp setelahnya diberi tau bahwa itu tidak seharusnya. Sekarang jauh lebih mudah mengkomunikasikan apapun dengannya dan hampir tidak pernah tantrum lagi.

Anak yg tidak punya kehendak/will seperti ditaruh ke kuda tanpa kekang.. diombangambingkan oleh hasrat dirinya sendiri.


Kehendak  bisa mengatur moral dan tindakan kita, tapi kehendak bukan moral. Melihat motif adalah penting agar kehendak tidak dipakai untuk hal yang tidak baik. 

Kemampuan mengatur dirinya sendiri akan membedakan orang yang efektif atau tidak. Menohok sekali bagian ini. Bahwa kitapun perlu menguji dan melatih kehendak kita sambil melatih kehendak anak.

Berulang CM mengingatkan untuk melatih kehendak anak. Kita percaya keberadaan Tuhan dan kasih karunia, Kasih karunia itu ada, tapi latihan kehendak yang diberikan pada anak akan membuatnya lebih mudah untuk "kembali" ke jalur.

Lalu bagaimana melatih kehendak ?

Kehendak/will  dilatih dengan pengalihan pikiran.. melatih dia mau memikirkan yang mana.

Beberapa cara yang bisa dilakukan:

1. Incentives. Hadiah (Konsekwensi alami). Menolong anak menyadari bahwa dia akan mendapat sesuatu (konsewensi alami) yang dia sukai kalau dia bisa mengendalikan diri

2. Diversion. Melatih untuk dengan sadar memilih untuk tidak memikirkan hal yg "tidak penting". Nanti dia bisa melihat kembali rasa yg "ditinggal" tadi, dan melihat bahwa dia "menang" 

3. Change of Thought. Memikirkan sesuatu yang menyenangkan, ditengah hal yang tidak disukai, mencoba mencari pikiran lain yang lebih menyenangkan untuk diingat. Misal ketika terjebak dalam rutinitas yang membosankan, memikirkan hal lain yang kita sukai  sambil menghidupi rutinitas itu akan memberi energi barudengan begitu akan bisa menjalani rutinitas itu dengan gembira.

Dengan anak kita perlu melakukan konfirmasi emosi, dengan begitu kita bisa melatih anak untuk mengalihkan pikirannya.


#HomeEducation
#CharlotteMasonSeries
#OnlineDiscussion
#RefleksiNarasi

Senin, 23 November 2020

Home Education (21) - Seni

Sesi 21 ini belajar tentang seni.

Pada dasarnya anak sudah memiliki keindahan dalam diri dan benaknya. Karena itu di anak-anak kita hanya perlu memfasilitasi hal teknisnya saja, dan bagaimana mereka mau menuangkan dan mengembangkan yang ada pikirannya - berilah ruang.

Dalam hal seni menggambar atau mewarnai, biarkan anak menggunakan cat air di atas kanvas atau kertas gambar dan menorehkan kombinasi warna sesuai yang mereka sukai.

Ketika beraktivtas dengan tanah liat, salah satu yang bisa dilakukan misalnya menaruh satu objek di depan anak, lalu memintanya untuk membuat bentuk seperti yang ada di depannya, dan biarkan anak berkreasi dengan itu.

Untuk seni musik, jika orangtua tidak cukup punya keahlian yang cukup mengajarkan dasar-dasar musik maka sebaiknya mencarikan pengajar yang cukup ahli di bidangnya, agar anak bisa mendapat dasar-dasar yang benar sejak awal.

Untuk hasta karya, usahakan agar aktivitas yang dilakukan anak adalah sesuatu yang bermakna dan bukan sesuatu yang sementara - misal aktivitas dengan kertas yang kemudian dibuang - melainkan sesuatu yang layak disimpan / dipajang.

#HomeEducation
#CharlotteMasonSeries
#OnlineDiscussion
#RefleksiNarasi

Sabtu, 14 November 2020

Home Educatiion (20) - Sejarah dan Bahasa

Ketika belajar sejarah, anak tidak hanya perlu mengetahui sejarah bangsanya sendiri tapi juga bangsa-bangsa di dunia.

Menyediakan living book mengenai berbagai peradapan dan banyak tokoh di dunia akan memberi ide di benak anak tentang hal-hal yang pernah hidup di masa lalu.

Jika memungkinkan, sebaiknya memilih buku-buku sejarah yang ditulis atau diinspirasi oleh orang yang hidup di masa sejarah yang diceritakan itu. 

Mengenai belajar bahasa Inggris, lebih baik mengawalinya dengan grammar latin daripada English grammar. Anak-anak tidak perlu terlalu dini belajar grammar. Pengenalan kata-kata yang bermakna dalam kalimat sederdana akan lebih mudah diterima anak. 

#HomeEducation
#CharlotteMasonSeries
#OnlineDiscussion
#RefleksiNarasi

Senin, 09 November 2020

Home Education (19) - Geografi dan Sejarah


Geografi masih berkaitan dengan science, tapi lingkupnya lebih luas.

Hal yang paling menarik dari geografi adalah ketika memperlajarinya akan seperti mengisi anak-nak dengan ide dan memberi gambar-gambar di benak anak-anak.

Seringkali belajar geografi disampaikan dalam bentuk hafalan dan itu menjadi kurang menarik untuk dipelajari.
CM menyarankan langkah praktis untuk memulai belajar geografi ke anak dan lagi-lagi dimulai dari nembawa ke luar ruangan dan membangun kebiasaan mengamati. 
Nantinya ini akan menolong anak lebih mudah belajar mengenai pula-pulau bahkan yang di tempat yang jauh sekalipun.

Asupan buku-buku yang memberi ide akan sangat menolong ketika belajar mengenai geografi ini.

Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah dimulai dari hal yang ada disekitar rumah, yang tidak asing bagi anak. Mengenai batas wilayah, posisi / letak benda / lokasi tempat, membuat denah rumah atau lokasi tempat yang ada di sekitar.

Nantinya dengan belajar geografi ini anak akan bisa membayangkan berada di suatu tempat yang jauh dari tempat dia berada, di masa yang berbeda dengan masa di mana dia berada. 
Hm,.. membayangkannya saja sudah seru ya. 

CM menyarankan anak untuk sudah membaca sejumlah buku bagus tentang banyak tempat di dunia. Ini akan membangun ketertarikan anak tentang banyak tempat dan makin menyukai membaca buku.


Minggu, 01 November 2020

Kenapa Homeschooling ?

"Kenapa tidak ?"
Jawaban yang tidak menjawab ketika ada yang menanyakan kepadaku dengan segala keheranan, kenapa kami memutuskan anak-anak homeschooling. 🤭

Aku paham kalau lingkungan sekitarku akan ada yang menentang dan merasa ini hal yang tidak biasa, karena untuk meyakinkan suamipun aku perlu waktu yang tidak sebentar.

Alasanku sebenarnya simple.
Aku ingin anak-anakku memiliki masa kecil yang tenang dan menyenangkan.. 🤗 juga belajar dengan merdeka bukan karena nilai, like, dan tepuk tangan.
Aku tidak ingin anak-anakku direcoki keriwehan bangun subuh, mandi, berangkat, perjalananan yang terlalu awal agar tidak telat, untuk kemudian berada di suatu tempat yang disana juga dia harus mengantri puluhan anak lain untuk diperhatikan dan di dengar beberapa menit (kalaupun ada). 
Rasanya tidak ada sekolah formal yang ada di sekitar yang bisa sejalan dengan visi pendidikan yang ingin kami terapkan ke anak-anak.
Memilih untuk tidak menjadi bagian sistem yang nantinya disitu akan ngomel-ngomel karena merasa kurang ini dan itu tapi seperti tidak bisa berbuat apa-apa.
Rata-rata sekolah formal yang aku tau sistemnya sama.. Untuk tingkat kelas 1&2 SD setiap kelas akan berisikan 1-2 guru untuk sekitar 40 anak selama +-2jam. 
Pelajaran akan terus dilanjutkan sesuai silabus baik anak bisa/paham atau tidak, dengan harapan semua bisa punya skill yang sama untuk tingkat kelas yang sama dan diukur dengan tugas dan ujian. Yang pada akhirnya tujuan belajar anak (dan orangtua) adalah nilai/bisa mengerjakan soal.
Masih ada alasan-alasan lain.

Bukan keputusan singkat juga ini.. 
Aku bukan penyinyir sekolah formal karena akupun dulunya sekolah formal, tapi jika kuingat aku tidak mengingat cukup kuat apa yang kupelajari di sekolah, karena belajar yang sebenarnya adalah ketika aku di rumah.
Yang kuingat tentang sekolah hanya suasana pertemanan, situasi dan lingkungan sekolah.

Secara akademis yang kuingat adalah bagaimana almarhum bapak mengajarku belajar di rumah dan melatih untuk suka belajar.. 9 tahun yang menyenangkan.. beliau meninggal di usiaku 9.
Menurutku itu dasar yang cukup kuat..
Tidak mengecilkan peran guru2 ya.. ini konteksnya tentang apa yang ku alami dan yang memicu pikiran ini.

Ketika anak2 masih belum usia akademis aku sudah berkeinginan suatu saat anakku mau homeschooling saja.. tapi rasanya tidak tau memulai dari mana dan belum terlalu yakin juga karena aku masih kerja di luar rumah dan belum rela melepas pekerjaan yang aku suka.

Aku terus mengundur waktu sekolah Ben, pengennya kl memang akan sekolah formal nanti langsung SD saja di usia 7.. tp sempat merasa mustahil karena biasanya (info yang kutau saat itu) TK adalah wajib setidaknya 1 tahun, untuk adaptasi persiapan ke SD.
Karenanya aku menyerah untuk homeschooling dan kami sempat daftarkan Ben ke TK B untuk start di 2020 saat usianya 6.

Somehow, pandemi datang... Ini seperti blessing in disguise.. di masa inilah aku merasa perlu menguji ulang keputusan memasukkan ke sekolah formal.. karena kantor memberlakukan WFH... dan kebetulan (lagi) seorang teman yang kukenal baik membuka kelas diskusi salah satu metode homeshooling yang juga aku tertarik.
Terlalu banyak kebetulan menurutku bukan kebetulan,.. terlalu naif memang kedengadarannya kalau kubilang aku merasa Allah yg mengarahkan situasi ini.. tapi aku memang merasa begitu.

Mencoba mengenal lebih dekat tentang homeschooling dengan metode CM dan aku makin merasa ingin untuk menerapkannya untuk anak-anak. It's like "Aha Moment".
Akan bisa mengatur sendiri kurikulum yang akan dipelajari, dengan metode yang bisa diatur sesuai kebutuhan dan situasi yang ada selama prinsipnya tetap dipegang.
Beberapa bulan berjalan mengenal homeschooling, untuk pertama kalinya aku merasa rela meninggalkan pekerjaan di kantor untuk mendampingi pendidikan anak-anak.. tentunya aku masih akan tetap bekerja/berkarya dengan waktu yang lebih fleksibel tapi tetap membuatku bertumbuh.. bukan hanya jadi penunggu rumah.. 🤭

Keinginanku sederhana.
Aku hanya ingin anak-anakku bisa belajar dan berkreasi sepenuh hati menikmati setiap proses dan hasilnya, tanpa harus berpikir bahwa yang mereka kerjakan akan dinilai dengan angka (nilai atau jumlah like) dan tepuk tangan.
Juga menolong anak-anak sejak awal untuk berlatih kebiasaan-kebiasaan baik secara fisik maupun mental, dengan harapan mereka bertumbuh menjadi manusia yang mengenal dirinya (tau apa yang dia inginkan dan bagaimana mengendalikan dirinya menghadapi aneka sistuasi), mengenal dan mengandalkan Allah, juga peduli dengan dunia/lingkungan dimana dia ditempatkan.

Belum tau ke depannya akan seperti apa, tapi setidaknya untuk saat ini aku yakin menjalani ini.. mengimani bahwa kami bisa beradaptasi dengan jalan ini.
🙏🏻😇

Rabu, 28 Oktober 2020

Home Education (18) - Ilmu Pengetahuan Alam (Science)

Science / Ilmu Pengetahuan Alam

Berbicara mengenai natural science diingatkan lagi mengenai membangun kebiasaan mengamati pada anak. Kehidupan di luar ruangan akan menjadi kunci utama dari belajar science. karena ketika sering berada di alam maka anak akan secara alami banyak mengamati lalu muncul pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Orangtua perlu memberi kesempatan luas untuk anak-anak bisa menikmati alam supaya secara alami anak mengalami ketertarikan dengan sekitar. J

Pertanyaan yang paling sering muncul di Ben dan Liv adalah : kenapa air yang di sana diam saja, tapi yang di sana cepat sekali lewatnya ? kenapa awan bisa bergeser ?  kenapa di bawah kaki kita ada yang hitam ikutin gerakan-gerakan kita ? kenapa kaki seribu kalau dipegang dia melingkar ? kenapa tanaman itu kl dipegang dia jadi menutup ? (putri malu).

Diingatkan kembali agar kita orangtua tidak perlu terburu-buru untuk menjawab segala pertanyaan itu (tapi tetap harus punya  referensi yang baik untuk memancing ide anak menjawab pertanyaan-pertanyaan, karena seringnya kita pun tidak tahu jawabannya 😀). 

"The truth is, people who have never become interested in science can never appreciate most of the beauty that surrounds them."

Menurut CM, seperti apa seorang anak nantinya sangat tergantung dari seberapa banyak pengalaman nyata yang dialaminya dan seberapa bayal dia mengamati sesuatu dengan seksama/penuh perhatian/berpikir. Orang yang tidak tertarik dengan alam (dan segala kebiasaan benda di alam) mungkin akan kesulitan juga menemukan hal-hal yang menarik di sekitar.

Anak-anak akan bisa memahami ilmu pengetahuan alam karena semua yang terjadi di alam ada keteraturan di dalamnya dan  ada hukum alami yang mengaturnya dan itu bisa dipahami. 

Ada bacaan "The Science" yang disarankan untuk menolong anak belajar science. 


Geography / Geografi

Geograsi masih berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam, tapi lingkupnya lebih luas.

Hal yang paling menarik dari geografi adalah ketika memperlajarinya akan seperti mengisi anak-nak dengan ide dan memberi gambar-gambar di benak anak-anak.

Seringkali belajar geografi disampaikan dalam bentuk hafalan dan itu menjadi kurang menarik untuk dipelajari.
CM menyarankan langkah praktis untuk memulai belajar geografi ke anak dan lagi-lagi dimulai dari nembawa ke luar ruangan dan membangun kebiasaan mengamati. 
Nantinya ini akan menolong anak lebih mudah belajar mengenai pula-pulau bahkan yang di tempat yang jauh sekalipun.

Asupan buku-buku yang memberi ide akan sangat menolong ketika belajar mengenai geografi ini.

Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah dimulai dari hal yang ada disekitar rumah, yang tidak asing bagi anak. Mengenai batas wilayah, posisi / letak benda / lokasi tempat, membuat denah rumah atau lokasi tempat yang ada di sekitar.

Nantinya dengan belajar geografi ini anak akan bisa membayangkan berada di suatu tempat yang jauh dari tempat dia berada, di masa yang berbeda dengan masa di mana dia berada. 
Hm,.. membayangkannya saja sudah seru ya. 

#HomeEducation
#CharlotteMasonSeries
#OnlineDiscussion
#RefleksiNarasi

Senin, 19 Oktober 2020

Home Education (17) - Aritmatika / Matematika

Setelah off minggu lalu, hari ini kita belajar tentang matematika yang dimulai dari aritmatika.

Ketika anak (dan dewasa juga sih ya) belajar aritmatika, yang diharapkan adalah bukan sekedar bisa menjumlah atau mengurang, tapi proses berpikir yang dibangun selama mengerjakan. Dalam aritmatika, perlu nalar dan alur berpikir yang runut. Itulah yang perlu dilatih sejak awal anak belajar aritmatika.

"The main value of arithmetic and higher math is the way it trains reasoning powers, habits of understanding, quickness, accuracy, and being truthful intellectually." (CM Home Education-Vol1, Modern English)

Ketika anak dihadapkan dengan cerita artimatika, anak-anak perlu memikirkan proses apa yang harus dipilih untuk menyelesaikannya. Kita perlu hati-hati  memilih soal yang diberikan ke anak ketika dia belajar artimatika. Soal dalam bentuk cerita akan lebih mengarahkan anak untuk berpikir daripada soal yang dalam bentuk notasi langsung.

CM menyampaikan bahwa di awal anak belajar aritmatika, sebaiknya didemonstrasikan sehingga anak bisa melihat angka-angka itu dalam bentuk nyata. 

Anak perlu tau bahwa angka 3 itu berasal dari benda-benda yang berjumlah 3. Dengan peraga tertentu misalkan seperti biji kacang, anak bisa melihat dengan nyata seperti apa yang dimaksud dengan angka tersebut. Dan dengan peraga yang sama ini bisa berkembang dari penjumlahan, pengurangan, perkalian (yang adalah penjumlahan yang berulang).

Perlu diperhatikan bahwa setiap kali anak menjawab soal aritmatika, anak harus bisa menjelaskan alasan kenapa itu yang menjadi jawaban. Jadi bukan sekedar soal jawaban yang benar, tapi juga proses yang dilalui sehingga jawaban itu yang diambil.

Kita sebagai pengajarnya perlu menyampaikan pelajaran artimatika ini bertahap, tapi konsisten menambah tingkat kesulitannya. 😄 

(Di bagian ini aku merasa diingatkan bahwa kita yang mendampingi  tentunya harus bersabar juga ya, dan terus mengingat bahwa pelajaran adalah instrument pendidikan, fokusnya adalah si anak.. habit yang mau dibangun di dalamnya selama belajar.)

Ketika anak sudah tampak meyakinkan dan terbiasa belajar artimatika dengan alat peraga, bisa dicoba ke dalam bentuk cerita. Kemampuan imajinasinya akan dilatih. Tapi jika di awal dia masih memerlukan alat peraga, biarkan dia menggunakannya sambil terus menyemangati untuk perlahan "melepas" alat peraganya. Ada kebiasaan konsentrasi yang dilatih dalam hal ini.

Begitu juga ketika belajar notasi angka. Dari angka satuan, puluhan, ratusan, dst perlu benar-benar memastika anak paham konsepnya. Ketika di satuan agak sedikit lebih mudah, tapi begitu masuk ke puluhan akan sedikit lebih menantang juga untuk berhati-hati mengajarkannya. Beberapa waktu lalu Ben baca sendiri deretan angka 1-100 yang memang kutempel di dinding. Dia membaca sampai 20 lalu terdiam. Mungkin karena sampai 20 penyebutannya masih berbeda (... belas) dengan yang setelah 20 yang bisa terjebak dengan dua satu (2 dan 1) yang seharusnya dua puluh satu (20 + 1). Ah iya, perlu waspada untuk menjelaskan suku kedua di angka puluhan.

Nantinya jika anak sudah lebih terbiasa dengan notasi-notasi besar, mereka dikenalkan ke konsep berat dan ukuran. Dan ini juga dilakukan dengan menimbang dan mengukur sendiri benda-benda, dengan alat peraga/bantu seperti timbangan, atau bisa gelas ukur juga. 

Diingatkan juga bahwa aritmatika adalah cara yang sangat baik untuk melatih akurasi/ketepatan. Karena dalam matematika hanya ada benar dan salah, tidak ada hampir benar. Ini adalah kesempatan melatih anak untuk melakukan yang benar untuk setiap kalinya, jangan sampai anak berpikir bahwa jika mereka bisa mengkoreksi ulang kesalahan yang sudah terjadi. Tapi juga kita harus menyemangati bahwa akan ada kesempatan lain dimana dia bisa melakukan hal lain dengan benar (tapi untuk yang sudah salah, tidak bisa diperbaiki). Aih,.. dalam sekali maknanya. #merinding

Sharing seorang teman menyampaikan pengalaman belajar bersama anaknya mengenai hal ini. Di anak sendiripun mereka tidak nyaman jika berkutat dengan kesalahan yang pernah dilakukan. Lebih baik lanjut ke hal berikutnya dan tolong anak untuk melakukan dengan benar berikutnya. Luas sekali jadinya ya.

"The student shouldn't be allowed to think that what wasn't done properly the first time can just be fixed to make it right. There is no going back. But he can move forward. Maybe he'll get the next one right; a wise teacher will make sure that he does."  (CM Home Education-Vol1, Modern English)


Tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan sebelum belajar artimatika ini. Kita perlu memikirkan cara untuk mulai belajar aritmatika ini, tapi hindari memberi suasana yang terlalu serius atau tidak menyenangkan ke anak karena hanya akan membuatnya tidak menyukai aritmatika dan selanjutnya matematika.

Tadinya masih agak bingung-bingung, apakah harus dimantapin dulu menulisnya baru masuk ke yang lain atau bisa berbarengan. Ternyata untuk memulai aritmetika ini, anak belum perlu menulis banyak. Cukup lisan. Dan jikapun perlu menulis, mungkin akan sangat sedikit sekali ya. Jadi di sesi yang lain copywork untuk latihan menulis bisa dilanjutkan.

Hal yang mendasar dan penting sekali ya artimatika ini dalam kehidupan sehari-hari sekalipun.. dimana ada angka, disitu ada alasan kenapa perlu belajar artimatika.

Setelah diskusi ini terpikir untuk buat penerapan dengan Ben. 
Sudah ada buku Baburina di rumah. Ada banyak stick ice cream yang belum terpakai, bisa difungsikan sebagai pengganti kacang hijau yang ada di bahasan tadi. Beli kacang hijau juga sebentar sih untuk mencoba mengelompokkannya dalam kantong plastik kecil-kecil sebagai variasi belajar nantinya

Selanjutnya mulai menerapkannya segera. Kan katanya tidak perlu persiapan khusus ya. 😄💪

#HomeEducation
#CharlotteMasonSeries
#OnlineDiscussion
#RefleksiNarasi